Jadi waktu itu saya masih bersekolah di Binus School Simprug. Saya benar-benar menikmati hari-hari saya disana. Mulai dari teman-temannya, lingkungan sekolahnya, sampai pelajarannya pun saya cukup menyukai. Sampai pada akhirnya tibalah saya di kelas 9, yang berarti sebentar lagi saya akan naik ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu SMA. Dan kemana saya akan melanjutkan sekolah saya untuk SMA itu? Waktu saya baru masuk Binus, terutama kelas 7 dan 8, saya masih berpikir bahwa saya hampir dan kemungkinan sangat besar dipastikan akan melanjutkan sekolah di Binus High School. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, semakin lama kemungkinan saya untuk SMA di BINUS semakin kecil. Awal dari mulai munculnya kemungkinan saya pindah ini adalah ketika saya mulai berminat untuk mencari beasiswa untuk sekolah di Singapura. Dan sekolah yang waktu itu menjadi pilihan favorit saya adalah Nanyang Girls’ High School.
Lalu, suatu hari sekolah saya mengumumkan bahwa mereka menjalin kerjasama dengan Hwa Chong Institution Singapura, yang merupakan salah satu sekolah prestisius di Negeri Singa. Dan jalan pertama yang terbuka untuk saya adalah penawaran beasiswa di Hwa Chong Institution untuk murid pria dan Nanyang Girls’ High School untuk murid wanita. Peluang ini benar-benar mengejutkan saya, secara kok bisa kebetulan sekali saya sangat ingin mendapatkan beasiswa untuk sekolah di Singapura dan tiba-tiba muncullah kesempatan emas ini. Saya mengira sepertinya inilah jawaban yang diberikan atas keinginan saya. Karena kalau tidak, tidak mungkin kan kesempatan ini datang di saat keinginan saya untuk mendapatkan beasiswa sangat besar? Saya benar-benar yakin saat itu.
Akhirnya, saya mengikuti tes seleksi penerima beasiswa. Singkat saja, saya tidak lolos tes tersebut. Saya benar-benar terpukul, karena saya merasa hal yang tadinya saya impi-impikan ini ternyata lepas dari genggaman saya. Padahal tadinya sudah terbayang saya akan menjalani kehidupan sehari-hari saya di negeri seberang, dan ternyata bayangan tersebut hanyalah angan-angan semata. Namun, saya tetap tidak menyerah. Keinginan untuk meraih beasiswa itu masih tersisa. Biarpun kesempatan untuk bersekolah di Nanyang Girls High School bisa dibilang sudah tertutup, saya merasa masih ada kesempatan bagi saya untuk menuntut ilmu disana. Toh, sekolah di Singapura bukan hanya NGHS. Saya bahkan juga mengikuti les matematika dengan kurikulum Singapura yang bisa dibilang dikhususkan untuk anak-anak yang berniat untuk maju mengikuti tes mendapatkan beasiswa di Singapura. Namun, tentu saja sekolah yang mereka minati berbeda-beda.
Awalnya, saya merasa tidak mampu untuk mengikuti pelajaran di tempat les tersebut, terutama karena saya memang masuk ditengah-tengah course kelas berlangsung, yang berarti tentu saja saya ketinggalan materi-materi awal dan saya masih harus beradaptasi di saat yang lain sudah menyesuaikan diri dengan pelajarannya. Tetapi setelah beberapa lama, akhirnya saya dapat mengikuti pelajaran dengan cukup baik. Oh iya, selain karena materi yang diajarkan sangatlah sulit, mendatangi tempat les tersebut saja sudah merupakan perjuangan dan pengorbanan besar bagi saya. Tempat les tersebut terletak di bilangan Daan Mogot, sementara saya berdomisili di daerah Kebayoran Lama. Selain itu, jadwal pembelajaran adalah pada hari Sabtu, dari jam 2 siang hingga jam 8 malam. Benar-benar merupakan sebuah pengorbanan yang besar bagi saya, karena dengan mengikuti les ini maka berarti saya tidak bisa menghabiskan waktu di hari libur ini dengan berjalan-jalan bersama teman-teman atau keluarga seperti yang biasa saya lakukan. Pada awalnya memang terasa sangat berat, apalagi karena saya merasa malas dan tidak rela hari Sabtu saya tersita untuk belajar sesuatu yang sulit.
Namun, tentu saja, lama kelamaan saya sudah mulai terbiasa dengan rutinitas saya setiap hari Sabtu tersebut. Hingga pada akhirnya course pembelajaran selesai dan lepas dari tempat les tersebut, saya benar-benar merasakan manfaat dari mengikuti pembelajaran ini. Berkat les ini pula, saya menjadi jauh lebih mudah mengerti pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional (UN), secara sekolah saya, yang waktu itu bertaraf National Plus, tidak menggunakan kurikulum Nasional yang akan diujikan pada UN, sehingga lagi-lagi saya juga harus mengejar 3 tahun pelajaran Matematika dan yang paing berat yaitu IPA. Pada akhirnya saya berhasil lulus dari SMP dengan NEM yang cukup memuaskan dan merupakan yang tertinggi di angkatan saya, yaitu 37.10. Oh ya, dan tentang beasiswa, saya sempat mendaftarkan diri sebagai calon penerima beasiswa di Anderson Secondary School, masih di Singapura. Namun, ternyata, seleksi penerima beasiswa ASS hanya diperuntukkan kepada siswa-siswa dari sekolah tertentu dan sekolah saya tidak termasuk salah satu didalamnya.
Selain berusaha mencari beasiswa, saya tentunya juga menyiapkan rencana B jika seandainya saya gagal mendapatkan beasiswa (dalam hal ini, memang pada akhirnya begitu). Tadinya, pilihan kedua saya jika gagal meraih beasiswa adalah SMA Santa Ursula. Namun, saya tidak lulus tesnya dan memang ketika saya menghadiri tes masuknya, entah bagaimana saya sudah berperasaan bahwa sepertinya saya tidak akan berkeliaran di koridor-koridor ini. Sepertinya saya tidak akan menjalani keseharian saya sebagai siswa SMA disini. Dan di hari pengumuman hasil tes, ternyata saya tidak diterima. Saya tidak terlalu terkejut dengan hasil tersebut, dan yang terutama adalah saya tidak merasakan kekecewaan. Entah karena saya yang tidak terlalu berminat bersekolah disana, atau karena saya sudah merasa tidak akan diterima karena tes nya yang waktu itu menurut saya cukup sulit, atau memang karena saya saat itu sudah terbiasa gagal dan terjatuh sehingga saya tidak lagi merasa terpukul.
Akhirnya saya mengikuti tes masuk ke SMA Al-Izhar Pondok Labu, dan setelah saya mengikuti rangkaian tesnya, memang saya merasa optimis dapat diterima di sekolah ini. Dan memang benar, saya diterima.
Namun, tiba-tiba, ibu saya menyarankan saya masuk ke SMA Labschool Kebayoran. Ia bahkan sepertinya sangat keukeuh berkeinginan agar saya bersekolah di Labsky. Saat itu, entah kenapa saya benar-benar tidak ingin bersekolah di Labsky. Butuh waktu yang lama sampai akhirnya saya menyerah dan mengikuti keinginan ibu dan juga ayah saya. Saya pun terpaksa belajar mati-matian karena ada 5 mata pelajaran yang diujikan di tes Penerimaan Siswa Baru (PSB) di Labsky, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, dan IPS. Lalu, pada hari terakhir pendaftaran ulang Alizh, ibu saya ditelepon oleh pihak sekolah tersebut. Dan tiba-tiba ia mengatakan bahwa ia akan melepas kursi saya di Alizh karena masalah administrasi yang memberatkan apabila saya tidak jadi bersekolah disana. Dengan begitu, semakin tertekanlah saya. Di benak saya, saya bertanya, “Kalo gue ga keterima di Labsky, gue SMA dimana???”. Namun, disamping tekanan yang semakin berat tersebut, saya juga merasa jadi lebih terpacu untuk bisa lolos tes PSB. Dengan guru les saya, saya terus menerus berlatih dengan menggunakan soal-soal PSB tahun-tahun sebelumnya. Satu buku tersebut saya lahap habis, terutama pelajaran Matematika dan IPA.
Dan akhirnya hari-H PSB telah tiba. Saya berangkat menuju Labschool Kebayoran dengan cukup deg-degan. Ketika saya masuk ke area sekolah…………………………………ada apa ini? Nggak salah nih? Banyak sekali orang-orang yang juga mengikuti tes PSB, dan dari informasi yang saya dapat, pendaftar SMA Labsky jumlahnya mencapai lebih dari 1000 orang. Angka itu cukup membuat saya bergeming, namun entah kenapa saat itu saya tidak merasa ciut karena banyaknya orang yang menjadi saingan saya dalam merebut satu dari 200 kursi yang tersedia di SMA Labsky. Namun, tetap saja saya merasa cukup tegang karena khawatir akan soal-soal yang muncul di tes nya nanti.
Lalu, saat waktunya telah tiba, kami pun memasuki ruang kelas yang telah ditentukan. Lembar soal mulai dibagikan, dan saya pun mulai mengerjakan soal-soal yang berjumlah 100 butir tersebut. Dan akhirnya, waktu telah habis. Saya merasa cukup bisa mengerjakan soal-soal tersebut, terutama Matematika. Namun, untuk pelajaran IPS…saya menebak semua jawaban dengan menggunakan logika dan pengetahuan umum saja, karena saya merasa terlalu malas dan tidak ada waktu mempelajari pelajaran IPS yang cukup banyak materinya.
Setelah keluar dari ruang tes dan di perjalanan saya menuju mobil saya yang di parkir di dekat Taman Langsat, entah kenapa saya mendapatkan perasaan bahwa saya akan sering melintasi jalanan ini kedepannya. Dan kali ini, meskipun soal tesnya susah, saya merasa yakin bisa diterima di Labsky.
Dan malam hari sebelum pengumuman hasil PSB, kira-kira sekitar jam 11 malam, saya mengecek situs SMA Labsky, siapa tahu hasilnya sudah keluar. Saat itu, saya mengakses internet dengan menggunakan ponsel saya. Dan ternyata hasilnya sudah keluar! Tanpa banyak basa-basi, saya langsung meng-klik link tersebut. Saya menunggu halaman tersebut untuk loading, ketika saya menunggu tabel yang berisi nomor-nomor tes yang diterima, tiba-tiba……pulsa saya tidak mencukupi untuk akses GPRS. Saya langsung merasa kesal dan akhirnya saya terpaksa meminta kakak saya untuk mentransfer pulsa ke HP saya dan kembali melanjutkan membuka hasil tesnya. Ketika sudah selesai loading, saya langsung mencermati nomor-nomor ujian yang tercantum di tabel itu. Saya mencari2 nomor saya, yaitu 1B 20024 dan....saya menemukan bahwa nomor saya tidak tercantum di tabel tersebut alias tidak diterima. Dan ketika saya mengecek daftar yang diterima sebagai cadangan, ternyata nomor saya juga tidak menemukan nomor saya. Saya benar-benar tidak tahu harus berkata apa saat itu. Saya lalu mengirim SMS kepada ibu saya yang berada di kamarnya di lantai bawah untuk memberitahu bahwa saya tidak diterima. Setelah ia menerima SMS tersebut, ia langsung menuju ke atas. Ia menanyakan saya, “Ah yang bener?” dan akhirnya ia menyalakan komputer untuk mengecek kembali. Ibu saya lalu membuka link hasil PSB dan ternyata nomor saya ada!!! Kontan saya merasa kaget juga, kenapa tiba-tiba nomor saya ada padahal tadi tidak ada? Ternyata, setelah diusut-usut, link yang saya buka di HP saya itu adalah daftar peserta yang diterima untuk SMA Labschool Jakarta/Rawamangun dan saya dengan “pintar”nya tidak menyadari saking paniknya mungkin. Dan ketika saya membuka website di Labschool di HP saya, daftar yang diterima di SMA Labschool Kebayoran memang belum keluar.
Akhirnya, tibalah hari pertama saya bersekolah di SMA Labsky, yaitu pada hari Sabtu, 12 Juli 2009, untuk menghadiri briefing Masa Orientasi Siswa (MOS) yang akan dilaksanakan pada hari Senin, 14 Juli 2009 sampai hari Rabu, 16 Juli 2009. Di briefing tersebut dilaksanakan pengenalan-pengenalan dasar budaya Labschool, pengenalan kakak-kakak OSIS dan MPK, serta briefing soal name tag dan tata rambut untuk MOS nanti. Kesan pertama saya, “Hah kok name tag doang ribet banget sih?” dan lain-lain nya. Namun akhirnya nametag tersebut rampung juga dan saya pun menjalani MOS.
Di MOS ini, saya benar-benar merasa kaget dan culture shock, ya jelas saja, saya harus beradaptasi sedemikian rupa dari lingkungan saya di SMP dulu dengan linkungan baru saya di SMA ini. Mulai dari makan komando yang dihitung waktunya, Pelatihan Baris-Berbaris (PBB) yang sedemikian terasa “kejam” dan tidak enaknya, apalagi dengan cuaca yang panas, dll. MOS terasa sangat lama bagi saya, dan ketika MOS telah berakhir, saya benar-benar merasa senang dan lega.
Setelah MOS selesai, kami dibagi menjadi 5 kelas. Saya mendapat kelas X-A. Kesan saya ketika pertama kali masuk kelas ini benar-benar membosankan, apalagi di kelas ini tidak ada murid yang saya kenal dekat. Hari-hari pertama di kelas ini saya lewatkan dengan begitu bosan dan saya merasa tidak terlalu nyaman di kelas ini. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya pun mulai mengenal teman-teman baru saya di kelas ini. Dan semakin lama, kami menjadi semakin kompak, terutama setelah kami bersama-sama pergi ke Dunia Fantasi (Dufan).
Salah satu highlight dari tahun pertama saya di Labsky adalah rangkaian kegiatan Trip Observasi. Dimulai dari Pra-TO, dimana saya merasa sangat tertekan dan stres mengerjakan name tag yang sangat sulit dan rumit, ditambah lagi dengan lari tiap pagi dengan rute yang jauh, makan komando, dll. Namun, ketika Trip Observasi (TO), semua terasa jauh lebih menyenangkan karena lebih santai dan lebih memfokuskan pada kegiatan-kegiatan seperti penelitian PDP, PKD, serta kegiatan-kegiatan simpel lainnya yang melatih kemandirian seperti memasak sendiri, merapikan rumah, dsb.
Lalu masih banyak lagi kegiatan-kegiatan seperti Pesantren Kilat Ramadhan (Pilar), Studi Lapangan ke Pangandaran, Latihan Kepemimpinan Siswa (Lapinsi), dan juga Tes Potensi Organisasi (TPO).
Satu lagi kegiatan yaitu BINTAMA, yang merupakan kepanjangan dari Bina Mental Kepemimpinan Siswa yang dilaksanakan di Pusdikpassus Batujajar dan Situ Lembang. Kegiatan ini dilaksanakan di penghujung tahun ajaran. Awalnya, saya benar-benar merasa tidak betah di kegiatan ini dan saya benar-benar ingin pulang. Namun, lama-lama, saya dapat beradaptasi dan sudah terbiasa dengan keseharian di kegiatan ini. Terutama di Situ Lembang, karena tempatnya sangat bagus dan menyuguhkan pemandangan yang luar biasa. Namun, suhu disana sangatlah dingin, dan sangat membuat menderita terutama setelah caraka malam, dimana kami menyebur ke air dan dengan sekujur tubuh dan badan yang basah masih harus mengarungi angin yang luar biasa dinginnya.
Jika ditilik kembali, rasanya tahun pertama saya di SMA Labsky berjalan dengan sangat cepat, padahal sebenarnya tahun ini merupakan tahun yang sangat panjang dan penuh dengan kejadian-kejadian dan juga pengalaman yang sama sekali baru buat saya.
Demikianlah kira-kira setahun pertama saya di SMA Labsky, mungkin saya hanya menjelaskan sedikit saja disini karena banyak sekali kejadian yang terjadi pada tahun ini yang mungkin tidak saya ingat dan terlalu panjang untuk ditulis disini.

No comments:
Post a Comment